New Chapter of My Life, May 2011

Last year, earlier 2010, I had been made huge decision, and now I need to make another huge decision for my life.

On February 2011, I had an opportunity to continue my journey in Ericsson AB Sweden, it’s a mixed feeling when I got those offer. Happy, surprise, confuse were mixed into one, and I doesn’t know how to describe it.

It’s such a dream come true for me, as working in 3rdline/ProductUnit/PDU/PLM/R&D is my greatest ambition when I decide join Ericsson. Now I’ve got those chance….It’s such a big challenge for me since in one side of my heart thinking that I might be not too capable for work as product line hence I need to gain more experienced before I’m joining there while in the other side I just have feeling that I should take this challenge now regardless about my capabilities, just go there, learn new thing and do your best.

This feeling is like De Java Vu for me, I’ve been had this feeling before when I accepted as student in ITB, this kind of feeling is moreless same between that two.

After discussion with my Family, I decided that I took that chances, okay I might be not as good as Finn Magnusson, or Mathias Aldrin or David Smith but this is me, Indra Gunawan who have it’s own fate, and I took this challenge to see whether I can be as good as them or I will be failed to working there, but as Michal Jordan said :

“I can accept failure, everyone fails at something. But I can’t accept not trying”

Yes, I just tried, learn, work smart (I’m prefer to work smart instead of work hard) and do my best, the result will follow it.

In term of my social life, I will be moving from the hottest place in the world, I got 55 Degree Celcius last year in Kuwait, and I will go to Sweden, one of the coldest place in the world, it will be – 20 Degree Celcius next winter, honestly I didn’t know how to coupe that, in chilly winter like Kuwait (it’s only 3 Degree celcius) and I already got my stomach colic due to this cold.

Again, I just said Bismillah and I believe that my body will adapt with that weather somehow.

I need to learn Swedish also as native language, even though all people there able to speak English but in some case, I need to speak Swedish, hence I need to learn the Swedish language.

This would even more needed if I would like to be “Cecep Thornberg” or Cecep Jernberg or Cecep Ibrahimovich maybe hehehe

As decision had been made, and now the ship is sail to continue it’s journey, honestly I even doesn’t know where this ship will have their final port but such is life, people come and go and life goes on. But to begin with I will just said :

Bismillahirrohmanirrohim…

May Allah Bless with us

Kontraktor vs permanen??

Gara gara perbincangan di sebuah forum skype, jadi tertarik untuk membahas topik ini, topik ini sudah menjadi wacana di semua pegawai telekomunikasi.

Banyak dari teman-teman saya yang memilih jadi kontraktor dibandingkan jadi permanent, menurut mereka kontraktor itu lebih bebas dan pastinya “lebih banyak uangnya” Saya tidak bisa berbicara banyak tentang kontraktor karena saya tidak pernah jadi kontraktor, namun saya sudah berbincang-bincang dengan teman-teman yang memilih posisi kontraktor jadi mudah mudahan bisa memberikan gambaran yang adil..

Ada beberapa aspek yang akan saya bahas disini sebagai perbandingan antara kontraktor dan permanent, diantaranya adalah

-          Gaji/salary/pendapatan

-          Cuti/liburan

-          Family concern

-          Job security

-          Pendidikan anak

 

Salary/Gaji

Sebenarnya alasan saya tetap berada di posisi permanent adalah karena awalnya saya berkarir dari posisi permanent sehingga secara “terpaksa” harus memilih jalur ini :D

Jikalau membandingkan antara gaji para kontraktor dengan posisi permanent, saya hanya bisa mengelus dada sambil bersyukur masih punya pekerjaan hehe Yups karena salary para kontraktor bisa dibilang jauh lebih besar dari permanent, sehingga menurut saya posisnya adalah 1-0 untuk kontraktor

 

Cuti/Liburan

Klo ini sebenarnya debatable banget lah, karena beberapa teman kontraktor bisa bilang bahwa mereka bisa liburan minimal 2-3 bulan setaun, tapi ingat ini mereka itu no-paid, artinya selama liburan itu mereka tidak dibayar. Klo dari sisi permanent sendiri, saya mendapat cuti 5 minggu hari kerja sehingga total saya bisa liburan 1.5 bulan dan saya dibayar selama cuti tersebut..

Jadi posisinya adalah para kontraktor mereka bisa mengatur waktu liburan mereka semaunya mereka, namun klo permanen kita hanya bisa liburan selama max 1.5 bulan

 

Family concern

Inilah alasan terbesar saya mengapa memilih pekerjaan permanent, yups family concern. Oke kita berbicara dahulu tentang para kontraktor…. Secara umum, rekan-rekan yang berkontraktor di luar negeri itu meninggalkan keluarganya di Indonesia (well ada juga she yang bawa keluarganya, namun disini saya berbicara kondisi mayoritas), menurut saya inilah kondisi terberat bagi saya, karena meninggalkan si kecil naumira dan sang bunda tercinta dalam jangka watu 3-6 bulan menurut saya sangat berat. Namun para kontraktor harus siap dengan kondisi ini, karena proses visa yang cukup rumit jika membawa keluarga, biaya pesawat yang harus di tanggung sendiri, kemudian ketika kontrak tidak diperpanjang artinay keluarga juga harus ikut traveling lagi yang mungkin akan membuat capai. Sehingga kebanyak kontraktor memilih untuk berangkat sendiri ke luar negeri. Jadi menurut saya di sini posisi permanent 1 – kontraktor 0

 

Job security

Sekarang ini sebenarnya tidak ada jabatan/posisi yang benar-benar aman, karena posisi permanent pun sekarang rawan dari pemecatan, namun saya berbicara tentang kondisi mayoritas

Kontraktor secara umum mendapatkan kontrak 3-6 bulan dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan di perpanjang.. Sedangkan untuk posisi permanen saya mengambil asumsi bahwa kita akan aman untuk 2 taun pertama, lebih dari itu ada kemungkinan juga di pecat, namun 3-6 dibanding dengan 2 taun?? Saya memilih yang 2 taun :D

 

Pendidikan anak

Ini juga debatable banget lah hehe, semuanya kembali ke orangnya masing-masing, karena klo saya punya cita-cita agar anak saya bisa mengenyam pendidikan di luar negeri dari mulai kecil. Posisi permanen di beberapa negara (middle east), perusahaannya bahkan menanggung biaya sekolah anak dari mulai usia 4-19 tahun, sehingga kita tidak usah pusing memikirkan biaya sekolah anak. Para kontraktor juga bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri, namun mereka harus membayar dari kocek mereka sendiri(well mereka punya very huge salary, so it should not be a problem for them). Jadiii anda pilih yang mana??

 

Dari faktor2 diatas, karena saya lebih family oriented maka saya lebih memilih posisi permanen dibandingkan posisi kontraktor..

Tapi berikut cuplikan pendapat dari temen2 kontraktor (karena keterbatasan huruf jadi hanya saya cantumin 2 saja hehehe

 

[11:39:39 AM] An**ika ****uman:bener2 money oriented, gak semuanya berpikir untuk hidup mulia, tanpa melihat uang jadi komoditi utama hidup.

[11:39:39 AM] An**ika ****uman: intinya dong, pilih  mana konsultan atau permanent.

[11:39:41 AM] An**ika ****uman: gw konsultan (blush)

 

Klo yang ini vulgar banget

[11:39:39 AM] H***y kalo gue sih kontraktor… kerja sebulan sama dengan lima bulan permanen… jadi kalo setahun kerja sama dengan 5 tahun kerja permanen… 5 tahun kerja kontrak = 25 tahun kerja permanen = pensiun

 

 

Communication Skill Part 2

Menyambung dari part 1, akhirnya saya berhasil untuk belajar lebih baik dalam berkomunikasi.

Seperti pernah saya bahas di part 1, bahwa terkadang berkomunikasi itu tidak mudak, perlu trik dan perlu diplomasi yang terkadang lebih membingungkan dari pekerjaannya itu sendiri. (ini pengalaman saya pribadi hehehe)

saya akan mencoba berbagi trik saya ini barangkali saja bisa diimplementasikan oleh para pembaca lainnya.

- Cobalah meminta saran ke senior atau orang yang anda anggap punya kemampuan berkomunikasi yang baik.

Dalam kasus saya, saya sempat meminta saran ke rekan saya, beliau bernama SP Sajugo(penting ga seh hehehe), dalam diskusi saya ini dia memberi masukan apa saja hal-hal yang harus di diskusikan, dan keep on track…maksudnya adalah ketika sedang berbicara tentang issue ini jangan melenceng ke issue yang lain, contoh gampangnya adalah seperti ini : ketika kita berdiskusi dengan istri bahwa kita sedang ingin membeli PS3, ya fokus untuk berbicara untuk beli PS3, pons and consnya apa, jangan malah kita terseret ke hal-hal lain, yang hasilnya adalah PS3 tidak jadi di beli namun yang dibeli adalah netbook untuk istri hehehehe (contohnya mirip ga yah ngaco mode on :)

Selain dari Jugo, saya juga sempat berdiskusi dengan beberapa rekan saya di kuwait, kebetulan minggu lalu di rumah kami mengadakan arisan, jadi selesai arisan kita sempat berbincang-bincang mengenai how to deal with difficult people, disitu saya mendapat banyak masukan dari rekan-rekan telco di kuwait. Hal-hal yang dahulunya tidak terpikirkan oleh saya, dengan berdiskusi bersama mereka saya mendapat ide baru, salah satu kata-kata yang saya ingat adalah

“Posisikan diri loe itu jadi manager, jadi loe harus tau concernnya dia apa, dan coba untuk bantu dia, jangan malah loe ngepush dia mulu atau bahkan mengancam dia”

Aha… itu dia saya pikir, ini mungkin adalah kata kuncinya, karena dalam diskusi saya sebelumnya saya selalu bilang saya ingin ini, ingin itu, ingin ono, ingin iku namun saya tidak pernah berpikir apa sih maunya manager saya, dari situlah saya berpikir keras…

Hmm oke, saya harus memposisikan diri sebagai manager dan kira-kira apa yang saya bisa bantu/lakukan untuk menolong manager saya ini, dan bummm…. setelah berpikir dan saya mengajukan bantuan kepada manager saya ini, manager saya ini pun dengan mudah untuk memberi ijin kesaya untuk melanjutkan karir saya.

- Hal yang kedua yang saya lakukan untuk memperbaiki skill berkomunikasi adalah dengan melakukan “gladi resik”.

What??gladi resik apaan neh??hehhe lagi-lagi ide ini berasal dari perbincangan dalam diskusi di arisan, rekan saya bilang

“Coba deh loe berlatih, kira-kira klo loe ngomong A, manager loe bakal jawab apa?? possibilitynya kan bisa negasi dari A, atau malah complement dari A, atau bahkan B,C,D yang melenceng dari topik”

Akhirnya saya menulis semua hal-hal yang saya ingin diskusikan dan kemungkinan jawaban yang akan saya dapatkan. Karena di apartment saya hanya saya dan istri saya, akhirnya saya berkomat kamit sendiri didepan cermin, sambil menggerakkan tangan saya sebagai body languagenya..

Kocak juga seh klo dipikir-pikir, seperti orang gila yah hehehehe namun ternyata hal simple itu sangat membantu dan ketika saya berdiskusi dengan manager saya, saya tidak kaget akan jawaban-jawaban manager saya ini, bahkan sayapun dengan lancar dan pasti menjawab semua argument beliau, dan itu karena karena hal simple yang sudah saya latih sebelumnya (komat kamit depan cermin hehehehe)

Begitulah trik-trik saya berkomunikasi, mungkin keadaannya atau situasinya berbeda dengan rekan-rekan semua, cuma one thing for sure that communication is the key of success. Tried to be expert in communication.

“Revisi dikit, expert disini bukan dalam artinya malah jadinya jago ngomong ga bisa kerja yah hehehe maksudnya kita selain bisa menunjukan skill teknikal kita, namun juga skill berkomunikasi kita juga perlu diasah”

> Ditulis di kantor sambil ditemani segelas teh hangat….

Kehidupan di Luar Negeri Part 4

Seperti pernah saya bahas sebelumnya bahwa part 4 ini akan berbicara tentang pengeluaran sehari-hari di kuwait. Mungkin saya akan berbagi bagaimana saya/keluarga kami menyikapi hal ini. Sebelumnya mari kita bandingkan dahulu harga-harga yang ada di kuwait dengan dijakarta.

Untuk grocery secara jujur saya tidak pernah mengamatinya secara details namun bisa saya bagi disini bahwa secara umum berbelanja di carrefour indonesia dan carrefour kuwait perbandingannya mungkin 7:8 artinya setiap pengeluaran sebesar 700 ribu di indonesia mungkin sama dengan 800 ribu di kuwait.  Bahkan saya pernah berbincang dengan rekan saya di saudi arabia perbandingannya bahkan lebih murah disaudi dibanding di indonesia. Tentu disini saya berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan umum yang semua manusia di dunia itu butuh karena jangan tanya berapa harga tahu sumedang atau bakso atau tempe di kuwait karena akan merasa jauh perbandingannya hehehehe. Namun jika kita berbicara tentang harga ayam potong atau daging sapi barulah perbandingan ini dapat dipertimbangkan.

Biaya transportasi, klo untuk hal yang ini saya berani menjamin bahwa biaya transportasi di luar negeri itu akan jauh lebih murah daripada di indonesia. Contoh mudahnya mungkin bisa saya gambarkan disini ketika saya di rumah bintaro ada 3 alternatif untuk mencapai kantor saya di pondok indah, alternatif pertama adalah menggunakan mobil, dengan jarak rumah ke kantor yang hanya mencapai 18 km secara teoritis avanza saya bisa dibilang hanya akan menghabiskan 2 liter bensin artinya 9 ribu rupiah sekali jalan dan pulang pergi 18 ribu, sehingga dalam 1 minggu akan menghabiskan sekitar 90n ribu untuk bensin namun pada kenyataannya tidak seperti ini, karena ada pula faktor kemacetan dijakarta yang bisa mengakibatkan biaya ini membengkak. Untuk perbandingan di kuwait, sayangnya saya tidak menggunakan mobil disini hehehe sehingga perbandingannya kurang adil, namun saya akan mengambil contoh adalah rekan saya disini yang mempergunakan mobil. Di kuwait sendiri harga bensin sangat murah dibandingkan dengan di jakarta, untuk sebuah harga bensin dengan kualitas super hanya akan berharga 0.070-0.080 KD sekitar 2-3 ribu rupiah dan disini tidak ada kemacetan sehingga biaya untuk transportasi menggunakan mobil di kuwait sangat murah.

Alternatif kedua  untuk berangkat ke kantorketika di indonesia adalah menggunakan angkutan umum, ada 2 pilihan tersedia yaitu bis trans bintaro atau taxi. Untuk mencapai trans bintaro itu saya harus mempergunakan feeder baru kemudian dilanjutkan dengan trans bintaro. Dahulu ongkos untuk feeder adalah 2 ribu rupiah dan trans bintaro 11 ribu, sehingga total 13 ribu sekali jalan atau 26 ribu untuk sehari sedangkan dikuwait sendiri saya dari apartment saya hingga ke kantor adalah mempergunakan City Bus dan biayanya sekali jalan adalah 0.200 KD atau 6 ribu rupiah, lebih murah bukan?? Contoh yang lain adalah saya pernah bertanya ke rekan saya di swedia, berapa harga tiket kereta disana, rekan saya berkata sekitar 700 SEK atau sekitar 1 juta rupiah namun ini adalah karcis langganan dan ini untuk satu bulan pemakaian, sehingga untuk sekali jalan adalah 700/30/2 = 11.67 SEK atau sekitar 15 ribu rupiah sekali jalan.

Dari penjelasan diatas mungkin para pembaca berpikir loh klo begitu murah dunk hidup diluar negeri??

Hehehe… Don’t judge it too soon……

Di luar negeri kita harus menyewa apartement dan harga sewa apartment ini perbulan adalah sekitar 200-350 KD atau 6.5-12 juta perbulan, dengan uang sebesar itu tentu kita bisa mempergunakannya untuk mencicil KPR di indonesia hehehehe

Hal lainnya adalah ketika kita akan makan diluar, baik itu ketika makan siang ataupun ketika makan bersama keluarga. Ketika saya di indonesia, untuk satu kali makan siang di warung dekat ericsson indonesia hanya berkisar 7 ribu – 15 ribu di kuwait menurut pengalaman saya pribadi harganya berkisar antara 1.25 – 2.5 KD atau 50 ribu – 90 ribu.

Secara total, pengeluaran di indonesia dan kuwait memiliki perbandingan 3,5 : 4:5 artinya setiap pengeluaran sebesar 3.5 juta di indonesia akan equal dengan 4.5 juta di kuwait.

Itulah secara umum gambaran kehidupan dikuwait, dan bagian ke 4 ini merupakan bagian terakhir dari quadrologi??(saya hanya tau trilogi hehehe) dari proses kehidupan di kuwait menurut pandangan saya pribadi.  Namun saya pribadi menganjurkan jika para pembaca mendapat kesempatan untuk berkarir atau bekerja di luar negeri, ambillah kesempatan itu. Karena bekerja di luar negeri adalah kesempatan bagi kita untuk mengembangkan diri kita baik itu dari sisi teknikal ataupun dari sisi kehidupan sosial. Dikuwait ini saya bertemu dengan rekan-rekan yang amazing, beberapa diantaranya bahkan juga disegani di indonesia dan mereka skrng bekerja di kuwait (well, ada yang udah pulang sih ke indonesia lagi, one of the greatest BSS engineer in NSN). Beberapa dari mereka bahkan sudah mencapai posisi team leader namun mereka berani untuk meninggalkan zona nyaman mereka untuk mencoba mencari tantangan baru.

Klo mengutip perkataan saya yang saya ucapkan ke manager saya di indonesia adalah

“ by working outside of indonesia, I can learn from the engineer which more technical skill than me, I can broadness my network since I will worked with all people around the world, with different culture, I can develop new troubleshooting skill with new trik, new tools or even new approach when solving the problem. For me it’s priceless, and I would like to take this challenge”

Sampai sekarang, perkataan itu saya masih merasa benar hingga 90 %, sehingga apa yang saya ucapkan waktu itu adalah benar dan tidak mengada-ngada hehehe

>> ditulis di ruang tengah apartment sambil menanti rekan-rekan arisan datang.

Communication Skill

Sering kali kita dihadapkan pada posisi dimana kita harus mempunyai communication skill yang cukup mumpuni. Karena sering kali maksud dan tujuan kita tidak tercapai dikarenakan pesan yang kita kirim dalam komunikasi ini tidak tersampaikan, ataupun jika tersampaikan tidak tepat 100 % sehingga ada deviasi antara pesan yang kita sampaikan dengan pesan yang diterima oleh penerima pesan.

Salah satu yang tersulit dalam berkomunikasi menurut saya pribadi adalah ketika kita akan pindah/melanjutkan karir kita, entah mengapa kondisi ini selalu membuat saya stress dan terkadang pesan yang disampaikan tidak mencapai tujuannya.

Sudah 3 kali saya mengalami kondisi ini, dalam 3 kesempatan ini pula selalu saya merasa stress dan kurang percaya diri untuk berkomunikasi dengan manager saya. Oke mungkin dikesempatan yang ketika ini saya lebih mempunyai percaya diri karena belajar dari 2 pengalaman sebelumnya, namun tetap saja sulit menurut saya pribadi.

Sebenarnya, para manager kita tidak ingin menahan kita bahkan mungkin sebenarnya mereka bangga akan prestasi kita, namun terkadang mereka ingin mengetest menguji sejauh manakah keinginan kita untuk mencapai tujuan kita itu. Saya pribadi melihatnya seperti sidang tugas akhir, para penguji akan berusaha untuk menguji kita apakah kita benar benar menguasi materi kita dan apakah kita yakin apa yang kita lakukan itu, menurut saya kondisi ini terjadi juga ketika kita ingin berpindah/melanjutkan karir kita.

Oke, teorinya sepertinya mudah, hanya saya sendiri selalu merasa hal ini tidak mudah kok hehehehe selalu ada krikil krikil kecil dalam prosesnya bahkan beberapa kasus harus melalui grandfather principle, namun sepanjang kita yakin apa yang kita lakukan, insyaallah semuanya berjalan lancar. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin dan lakukan dengan kepala dingin, selain dari itu hanya kepada-Nya lah kita berdoa, karena kita hanya bisa berusaha namun Allah yang menentukan segalanya…

> Ditulis di kantor ericsson dengan suasana hati yang sedang deg-degan…:D