Ketika Posisi Guru Menjadi Idaman

Disclaimer : Cerita dibawah ini dibawakan dalam metoda narasi sehingga beberapa hal mungkin sedikit berlebihan, namun tidak mengaburkan tujuan utama dari topik ini.

Waktu menunjukan pukul 11.30 di kantor Hay Day FC, Zlatan Ibrahimovic, Alessandro Nesta, Kimi Raikonen dan Jari Litmanen sedang sibuk bekerja,
Tiba-tiba zlatan berkata : “Maksi nyok, laper neh. Ga sarapan tadi ane”
Nesta…, Kimi dan Jari semua serentak menjawab : “Anyok, iya aneh juga laper gan”
Berempat kemudian mereka mengambil jaket dan berjalan menuruni tangga, kebiasaan orang disini yang menggunakan tangga dibandingkan Lift cukup mengagetkan Nesta di awal2 bergabung dengan Hay Day FC.
Nesta : “Adduuuhh, kenapa seh pake tangga, cape juga kali naek turun tangga dari lantai 4” (Gerutu Nesta dalam hati)…
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampe di bawah.
Zlatan kemudian berkata : “Makan dimana kita”
Kimi : “upper East yuk, enak disana makanannya”
Semuanya : “ayo deh klo begitu”

Berjalan kaki sekitar 300 meter menuju lokasi, perbincangan dimulai oleh Nesta.
Nesta : “eh, kemaren gw posting di pesbuk loh, mengenai sistem pendidikan terbaik, ternyata banyak juga pengagum sistem pendidikan finland dinegara gw”
Kimi : “oh ya?? Italy maksudnya”
Nesta : “Ah loe Kim, Asli gw kan dari Cirebon kali, italy cuma numpang maen bola doank di Milan, kebeneran aja ditawarin jadi warga negara itali, jadi gw ambil, aslinya ya gw Cecep Nesta Gunawan. Wong Cherbon Asli.”
Kimi : “hahaha sorry nes, gw suka lupa hal itu, indonesia yah??”
Nesta : “yoi, makanya gw sekarang mau tanya ama loe n Jari neh, rahasianya apa seh”
Tanpa terasa mereka sudah sampai di restaurant tempat mereka akan makan siang.
Zlatan : “eh udah nyampe neh, makan dulu kita, ngobrol dulu loe loe pada”
Masing-masing mengambil makanan pilihan mereka untuk makan siang tersebut, dan setelah mendapatkan meja, perbincangan dimulai kembali.
Kali ini oleh Jari Litmanen yang memulai
Jari : “loe udah tau kan Nes, klo yang mau coba meniru Finlandia itu banyak banget, dan hasilnya bervariasi, ada yang sukses tapi ada juga yang gagal”
Nesta : “hmm, ada yang gagal juga yah, kenapa tuh alesannya”
Jari : “sebelum kita bahas yang gagal, mungkin gw share dulu deh inti pendidikan di finlandia”
“loe tau ga nes, di finlandia itu, kerjaan jadi guru itu bener2 kerjaan paporit banget lah” (PS : Jari ini ada keturunan sunda yang kadang2 suka kesaru, jadi bingung antara F,P atau V)
“dulu waktu jaman gw lulus kuliah, temen2 gw yang jago, semuanya daptar jadi guru SD ama SMP loh”
Nesta : “Ah yang boneng loe, masa guru SD ama SMP, klo dosen wajar lah, laah ini SD atau SMP??? jangan bokis deh loe”
jari : “yaah loe ga percaya kan Nes, coba tanya kimi deh klo gitu, bener kan Kim??”
Kimi hanya menganguk mengiyakan perkataan Jari, karena dia sedang asik menikmati Salmon Teriyakinya…
Jari : “Loe bayangin dunk Nes, waktu ujian jadi guru sd/smp itu seleksinya susah banget dah, gw aja mikir kayaknya lebih susah dari ujian sepenmaru gw deh”(jari termasuk yang paling tua disini, makanya dia bilang sepenmaru, untuk yang lainnya mungkin istilahnya SPMB, UMPTN etc)
Kimi : “hahaha bener loh, jaman gw juga gt, yang mau lulus master degree, pada ngelamar jadi guru. Dan ujiannya bener-bener parah deh. Seleksinya ketat banget”
Nesta : “buset deh, jadi professi favorit yah. Emang gajinya gede yah, kok pada ngelamar jadi guru”(PS : walaupun udah lama di italy, kadang-kadang nesta masih ada sifat indoensia, tetep tanya gajinya gede ga sebelum ngambil kerjaan hehehe)
Kimi : “hmm, ga juga ah, temen gw yang jadi guru, gajinya ga beda jauh ama gw, malah gedean gw kayaknya”

Nesta : “laah terus kenapa dunk, kok pada milih jadi guru sd atau smp??”
“ga gengsi banget klo di negara gw, klo dosen masih mendingan lah”
“klo ditanya ama calon mertua, ente kerja dimana adinda??”
“wah ane seh jadi dosen pak, di Institut Teu Jelas (ITJ)”
“calon mertua pasti akan bangga”
“cuma klo ditanya dan jawabannya adalah ane jadi guru es ed pak, di SD Inpres Kapetakan”
“wah bisa langsung diblack list udah ama calon mertua”
“Yang pinter2 waktu sma di tempat gw juga ga ada yang jadi guru SD, yang satu jadi engineer di Indonesia Power, yang satu jadi pegawai di otoritas Jasa keuangan dan yang satu laginya jadi engineer juga di perusahaan konsultan di norwegia”
“siapa yah temen gw yang jadi guru sd atau smp, kayaknya ga ada deh”
Kimi : “betul, itu terjadi hampir disemua negara kok, ga cuma di negara loe, cuma loe harus tau bahwa jika kita mempunyai guru yang terbaik, maka outputnya pun akan menghasilkan hal yang sama”
“terbaik ini bukan cuma pinter yah, tapi bisa mengayomi, bisa membimbing dan bisa mengajar juga”
“dan ini termasuk dalam materi test itu”
“jadi syarat jadi guru SD dan SMP di finland itu pertama harus S2 udah gitu lulus ujian masuk yang bener2 ketat”
Nesta hanya terdiam mendengar penjelasan itu. Dalam hati nesta, hmm agak lumayan panjang negara gw untuk mencapai seperti finlandia, cuma saya ga boleh patah semangat akan hal ini.
One step in a time
Slogan itu selalu nesta pakai disemua hal dan kali inipun tampaknya seperti ini pula,
negara Indonesia harus mengambil 1 step in a time untuk bisa mencapai level finlandia yang bahkan negara tetangganya sendiri aja aka Swedia belum bisa sesempurna finlandia dalam menerapkan sistem tersebut.
Nesta hanya tediam dalam perjalanan pulang ke kantor dan akhirnya ketika sampai di kantor dan say bye.
Nesta hanya bisa bergumam…
Hmmmm… Negara Saya harus bisa seperti itu..
Semangat itulah yang sekarang membara di hati nesta sekarang

Salam hangat dari Stockholm
indra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s