Another Winter, Another Vacation, Another Retrospective Period

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin meminta maaf kepada seluruh kawan-kawan jika ada kesalahan saya baik yang disengaja ataupun tidak, mohon maaf juga jika saya pernah menyakiti kawan-kawan baik itu melalui ucapan atau sikap/tindakan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya dari hati saya yang paling dalam. Saya harap kita semua dapat saling memaafkan, dan menjadi sahabat yang tentu lebih indah dari pada menjadi musuh.

Ucapan maaf diatas merupakan sinopsi dan bahan renungan saya untuk selalu instropeksi  diri, terlebih lagi dengan kejadian yang terjadi 1-2 bulan kebelakang. Yups, dalam 1 bulan terakhir saya benar-benar mengerti bahwa kematian adalah suatu kepastian, yang ketika datang, there is nowhere to run. It can happen anytime, Kita hanya bisa pasrah dan berharap kita bisa meninggal dalam keadaan yang baik. Hal lainnya adalah kita bisa merencanakan semua kegiatan kita, kita bisa jadi project planner terbaik, kita bisa menjadi project manager yang punya plan A, plan B, plan C sampai plan Z bahkan punya contigency plannya ada dari plan AA sampai plan ZZ, Namun ketika Allah menghendaki, Kun Fayakun, semua planing itu bisa berubah dan nothing we can do about it.

Loh loh tulisannya sepertinya berat banget neh bung Indra, well sebetulnya itu lebih kepada renungan buat saya sendiri dan mungkin kepada family saya dalam skala yang sedikit lebih besar, nothing more.  Karena liburan winter kali ini, merupakan liburan yang tidak direncanakan sebelumnya, not even 1 month ago. Liburan ini terjadi dikarenakan Ibu Mertua meninggal satu bulan yang lalu, proses meninggalnya cukup mengagetkan kami sekeluarga karena 1 hari sebelumnya kami masih saling bertelepon, dan beliaupun tampaknya masih sehat dan sepengetahuan kami, beliau tidak mempunyai penyakit berat namun seperti tulisan diatas, bahwa kematian itu bisa datang kapan saja, dan kepada siapa saja jika Allah menghendaki.

Situasinya sedikit kompleks karena pada saat Ibu Mertua meninggal saya sedang berada di negara lain dalam rangka tugas kantor, dan dalam kontrak kerjanya saya diharusnya di negara ini selama 1 tahun. Project inipun cukup mendapat perhatian dari C-level di kantor saya karena jargon Hetnet dan Radio Dot merupakan target 2013, sehingga cukup besar tekanan dalam project ini. Dalam rencana awal, saya diharuskan berada di Swiss sampai kita bisa mendeliver barang ini atau bahasa teknisnya saya adalah project guardian, dan seharusnya saya berada di Swiss paling tidak sampai akhir taun 2013. Namun seperti tulisan diatas, kita boleh mempunyai  planning dari A-Z, namun ketika Allah berkehendak, Kun Fayakun, rencana saya tinggal di Swisspun harus di tinjau ulang.

Ketika mendengar Ibu Mertua meninggal, Istri saya langsung shock dan ingin secepatkan pulang ke Indonesia untuk melihat Ibunya, situasi yang amat sangat dipahami, karena Ibu adalah sosok terdekat dari seorang anak dan begitupun dengan Istri saya yang sangat dekat dengan Ibundanya.  Dihadapkan dengan situasi ini, sayapun dilanda kebingungan karena waktu itu sedang dalan critical period di project, kita hanya punya waktu 3 hari sebelum freeze period, namun akhirnya saya memutuskan bahwa family comes first, job comes later. Sayapun bersiap untuk menanggung konsekuensi keputusan saya untuk mendampingi istri dan anak-anak saya dalam periode sulit ini dibandingkan pekerjaan.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengirim email ke Line Manager, Project Manager dan Hosting Manager saya, perasaan deg-degan bergejolak di hati saya, dan sayapun bersiap untuk semua kemungkinan terburuknya. Selesai saya mengirim email, sekitar 10 menit kemudian PM saya membalas bahwa dia sangat mengerti kondisi saya dan berkata bahwa family comes first, dan dia akan mensupport apapun keputusan saya. Alhamdullilah, begitu gumam saya dalam hati namun saya masih belum tenang sebelum saya mendapat keputusan dari LM saya, dan selang 5 menit kemudian handphone saya berdering dan LM saya menelepon saya. Dengan hati yang berdebar-debar sayapun mengangkat telepon itu, dan setelah kurang lebih berdiskusi sekitar 10 menit, LM saya berkata

”It would totally ok for me if you will take couples of days off, or even if you consider to take couple of months off, I will still approved. Just let me know your decision ASAP so we can plan accordingly”

Saya langsung terdiam, namun kali ini saya terdiam dalam keadaan yang bahagia, ternyata mereka semua setuju, there is nothing more important than family, not even high pressure project or anything.

Alhamdulliah, begitu gumam saya dalam hati, Allah tidak pernah memberi cobaan yang melebihi kemampuan umatnya, dan begitupun dengan musibah atau cobaan saya kali ini, Allah selalu memberikan kemudahan kepada umatnya.

Mendengar keputusan itu sayapun bergegas untuk membereskan semua urusan saya disini dan secepatnya untuk kembali ke Stockholm. Ditengah kebingungan dan kesedihan yang sedang kita hadapi, ternyata perjalanan pulang ke Stockholm pun tidak semudah yang kita bayangkan, rebooking tiket untuk penerbangan lintas negara ternyata cukup sulit, sehingga penerbangan tercepat untuk kembali ke Swedia kami dapatkan ke esokan harinya.

Hari demi hari terlalui, segalanya begitu berat buat keluarga kami, terutama buat istri saya yang kehilangan Ibunda tercintanya, peribahasa ”Sometime we never appreciated till its gone” itu benar-benar kami rasakan. Walaupun peribahasa itu sendiri tidak sepenuhnya tepat karena kita tentu selalu menghargai dan menghormati Ibu, namun ketika beliau meninggal, You will then realize that your mother is really everything for you.

Situasi di pekerjaan pun, situasinya tidak lebih baik, at least pada Hari pertama saya kembali ke kantor setelah meninggalnya Ibu Mertua, sayapun menghadap Line Manager saya. Saya pun menceritakan kondisi keluarga saya yang cukup memerlukan perhatian dari saya. Dan seperti tipikal orang Swedia, diapun menyetujui jika saya bekerja kurang dari biasanya, bahkan ketika LM bertanya berapa saya akan mengambil cuti, sayapun secara reflex berkata boleh ga saya cuti sampai akhir tahun?? Yang artinya saya akan cuti selama 2-3 bulan.

Dengan santainya LM saya berkata

”Ok, no worries. When will you take your leave??”

“Just make sure your handover to xxx and yyy is smooth so they won’t disturbing you during your vacation and also informing PM that you will leave for 2 months so the project delivery won’t delay”

Di Swedia ada peraturan bahwa untuk cuti lebih dari 1 bulan, itu mestinya at least 2 month notice, namun berhubung ini situasi yang exceptional maka 3 weeks notice is enough.

Sebetulnya, orang Swedia memiliki sifat yang sedikit mirip dengan orang Indonesia dalam hal mengutarakan pendapatnya, kita harus jeli untuk melihat maksud tersirat dari ucapannya agar kita bisa melaksanakan semuanya dengan baik. (Hehehe nebak banget sih gw)

Setelah berasumsi sendiri dengan gaya sotoy ala Igun, saya pun berpendapat bahwa saya harus menyelesaikan project backlog dan handover sebelum saya pergi untuk liburan. Dua hal ini ternyata bukan hal yang mudah diselesaikan terlebih lagi kondisi keluarga yang masih terguncang, sehingga de facto saya sebetulnya mempunyai 3 major backlog karena sayapun harus mengurus keluarga juga.

Saya pernah bercerita bahwa di Swedia itu punya system bekerja yang cukup santai, dan itu yang saya rasakan at least selama 2 tahun saya tinggal disana, tidak pernah saya bekerja melebihi dari 7,75 jam sehari, after office hours its family time. Namun, dalam situasi yang exceptional seperti ini situasi itu sayangnya tidak berlaku karena saya mesti mengambil pekerjaan yang seharusnya di kerjakan pada bulan November dan December untuk saya kerjakan di bulan October, sehingga bulan October ini saya benar-benar merasakan yang namanya bekerja keras di Swedia hehehe.

“Semua indah pada waktunya” Seperti judul film itulah, kondisi yang saya alami setelah mengalami semua cobaan, baik di family ataupun kesibukan di pekerjaan. Tepat 3 hari sebelum waktu liburan saya, semuanya hampir terselesaikan, project xxx-pun hanya tinggal menunggu waktu sebelum di deliver, semua tugas dari R&D sudah siap. Kondisi keluargapun sudah lebih baik, walaupun suasana sedih masih terasa di keluarga kami, namun paling tidak kondisinya sudah bisa tercontrol dengan baik.

Dan akhirnya…

Sekarang kamipun sampai di Negara Indonesia tercinta, di kampung kami tercinta, kota Cirebon.  Mencoba menikmati unplanned vacation ini walaupun kesedihan masih melanda keluarga kami, karena kami yakin dari ketiga takdir Allah SWT yaitu kelahiran, jodoh dan kematian. Kita harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada dan percaya dengan rencana terbaik dibaliknya. Pada setiap kelahiran, suka cita selalu membahana, para ayah dan bunda ramai-ramai memposting momen bahagia ini di pesbuk, mengucapkan suka citanya akan kelahiran putra/putrinya. Begitu pula dengan jodoh, ayat-ayat cinta bergema mengiringi sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara, foto pra-wedding dan pesta pernikahan meriah menambah kebahagian sepasang kekasih ini.

Sama seperti kedua hal diatas, kematianpun adalah takdir Allah, mungkin kita tidak bisa merayakannya dengan suka cita seperti kelahiran dan jodoh, namun hal yang bisa kita lakukan adalah menerima takdir Allah atas hal ini, nothing is easy for sure dan terkadang menjalaninya jauh lebih susah dibandingkan dengan hanya berbicara, namun …….

Life goes on, cinta datang dan pergi, manusia hidup dan mati. Kita hanya bisa pasrah dan menikmati semua moment kita sebaik mungkin dan berusaha menjadi manusia yang terbaik.

Salam hangat(sebenernya panas seh dicirebon hehehe)

Indra

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s