Internet Berkecepatan Tinggi di Indonesia… Perlukah?? dan Mampukah????

Gara gara membaca tulisan teman teman dan berita online yang mengatakan betapa pentingnya internet yang super duper cepet itu, dan sayangnya di Indonesia belum mempunyai kecepatan yang reliable.
Disana juga di jelaskan mengenai upaya pemerintah untuk membuat internet yang lebih baik untuk bangsa Indonesia.
Jujur saya bukan orang politik dan juga saya bukan seorang yang ahli dibidang kominfo. Cuma saya ingin memberikan opini atau pandangan saya mengenai hal ini.
Teman-teman semua mungkin menyadari mengenai pentingnya internet di indonesia adalah sejak kemunculan iphone, android dkk bahasa internasionalnya adalah Smart Mobile BroadBand (SMBB). I won’t go into detail what is it, instead you can read it on google .

Sekarang yang menarik adalah pernyataan ini :
”Menkominfo: Kalau Internetnya Cepat Mau Dipakai buat Apa?”

Klo menurut pengalaman saya pribadi ini adalah kebutuhan saya akan internet adalah sebagai berikut
1. Social media, pesbuk, twitter etc
2. Yutub atau pidio streaming
3. Learning online kayak coursera, idx etc
4. Nonton live streaming HD barca hahahaha
PS : saya tidak memasukan download pilem, music atau software yah, karena ini merupakan tindakan ilegal dan saya tidak mengajurkan hal itu.

Berdasarkan riset, 300Kbps itu sebenernya cukup untuk aktifitas kita di social media, namun ketika kita menginginkan sesuatu yang lebih maka minimun speed adalah 1 Mbps. Sedangkan untuk menonton live streaming sport/pelem HD itu minimal 3-6 Mbps.

Menurut saya minimum kecepatan internet ya 1 Mbps lah, paling tidak untuk kegiatan yang produktif dan hiburan-hiburan seadanya. Klo nonton bola HD soalnya itu mah bukan primary needed hehe

Pertanyaannya apakah di Indonesia punya internet secepat itu??? Jawabannya adalah punya… Kita punya 3G network yang support sampai 42 Mbps
Namun yang jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah kita mendapat kecepatan setinggi itu SETIAP SAAT??
SETIAP WAKTU???
DIMANA SAJA??

Jawabannya adalah TIDAK….

Itu menurut saya yang terpenting, instead of aiming internet speed until 100 Mbps, kenapa tidak meratakan kecepatan internet di seluruh wilayah Indonesia saja, paling tidak 1 Mbps deh….

Naah kira-kira bisa ga seh Indonesia seperti itu?? Menurut saya seh bisa, dan tulisan saya dibawah ini akan coba menjabarkan hal itu..

Sebelum kita menjawab itu, mungkin lebih baik sekarang kita breakdown dulu mengenai kondisi internet di Indonesia dan melihat bagaimana perbandingan dengan negara-negara yang memiliki kecepatan internet yang cukup tinggi seperti Swedia atau Korea Selatan. Kedua negara ini mempunyai kecepatan internet yang cukup tinggi, at least 10 Mbps itu minimal speed yang kita bisa dapatkan.

Teman-teman mungkin langsung komentar yaa elah jangan dibandingin dunk dengan ama Indonesia, bukan apple to apple klo kayak gitu
Hello….. itu pastinya ga sebanding maksud saya disini adalah bagaimana kedua negara itu bisa mencapai kecepatan tersebut, dan menurut saya masyarakat internet di Indonesia bisa belajar dari hal itu.

Di Swedia dan Korea selatan, internet itu di provide oleh fixed broadband access(FBA) and mobile broadband access(MBA). Bahasa gampangnya FBA ini kayak first media, atau ISP di Indonesia yang mempunyai jaringan kabel optic sedangkan MBA ya kayak tsel, isat, xl etc.
Secara umum FBA ini dipergunakan hampir diseluruh masy swedia di apartment atau rumah sedangkan MBA dipergunakan di perjalanan ke kantor, station,kongkonw di danau, maen ski di vasjobacken wkwkw etc

Jaringan FBA di Swedia itu mencapai semua area, sehingga konsep rumah adalah untuk FBA dan MBA ya untuk mobile itu kesampean.
Trus ada yang komen gini : “ya iya lah, di swedia kan rata2 apartment, di Indonesia klo di apartment mah kecepatannya cepet”
Hehehe ga juga kali, di swedia juga ada rumah-rumah yang deket hutan, atau deket danau yang jauh dari mana-mana, ada juga kompleks perumahan(radhus) dan mereka tetap bisa mendapatkan FBA di rumahnya karena pemerintah Swedia sudah ada grand planning sehingga koneksi fiber optic itu terinstalled secara luas.

Oleh karena itu, kombinasi FBA dan MBA mengakibatkan network/jaringan akan bisa sedikit rileks, namun sayangnya kondisi ini belum tercapai di Indonesia. Menurut saya ini salah satu yang bisa di improve, its something that doable in Indonesia we have such a rich country.

Contoh real casenya adalah saya sendiri. Untuk FBA network, saya berlangganan untuk internet speed 100/100 artinya 100 Mbps download dan 100 Mbps upload, unlimited. Realnya saya mungkin hanya bisa mencapai 28 Mbps namun menurut saya itu lebih dari cukup. Kemudian untuk MBA, saya berlangganan internet speed yang 1 Mbps dengan quota 1 Gb perbulan setelah itu kecepatannya akan turun drastis. Untuk MBA menurut sy kecepatan temen2 di Indonesia memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dari saya, namun itulah uniknya di sini.

Mayoritas masyarakat membutuhkan kecepatan yang super duper cepet itu ketika bersantai di rumah…Sedangkan di jalan, kita tidak terlalu membutuhkan kecepatan yang terlalu wah, 1 Mbps menurut saya lebih dari cukup ketika saya ber-internet selama diluar rumah.

Dan seperti teman-teman ketahui, hampir semua smartphone itu mempunyai fasilitas Wifi sehingga kita tidak perlu repot2 memindah kan dari FBA ke MBA setiap saat, it will be done automatically, thats why it called smartphone Bahasa orang tekniknya mah traffic steering

Dari sisi development, pembagian load antar FBA dan MBA itu sangat membantu. Karena jika kita hanya mengandalkan MBA, itu akan cukup sulit untuk mendapatkan kecepatan yang stabil dikarenakan behaviour dari MBA itu sendiri kayak interference, power control, scrambling code allocation etc etc (gw ga bisa RF euy wkwkwkw)

I know i know, Stockholm is having the least population density while jakarta is one of the highest population density in the world:
Oleh karena itu saya beri lah contohnya adalah Korea Selatan, dengan Seoul sebagai contohnya…
Anda tahu kan klo seoul itu adalah salah satu kota terpadat di dunia, namun tetap memiliki kecepatan internet yang cukup tinggi. Salah satunya ya karena ya ada kombinasi penggunaaan FBA dan MBA selain di Seoul mereka juga mempunyai technology MBA yang terbaik di dunia…

So first thing.. Can our govt improve the coverage of FBA in Indonesia??

Seorang teman berkata loe tau ga berapa biaya untuk pembangunan infrastruktur FBA itu?? Muahaaal banget tau….
Saya pun menjawab, iya lah tau banget gw… Makanya kan yang harus bangun FBA infrastruktur itu pemerintah, pemerintah itu duitnya super duper buaaaaanyyyaaaakkkk loh, nanti klo optiknya udah ready kan bisa disewain etc naah tugas swasta menurut gw klo FBA kemahalan ya bangunlah MBA.

Sebenernya tantangan terbesar Indonesia adalah karena mayoritas koneksi internet di Indonesia adalah menggunakan MBA atau koneksi mobile…..
Dan yang seperti anda ketahui, mobile connection yang bisa cover at least 1 Mbps ya minimal 3G, dibawah itu sih kelaut aja deh hehehe

Naaah masalahnya masyarakat Indonesia itu super duper banyak banget, population density itu sangat tinggi sehingga walaupun 3G secara teori bisa mencapai 42 Mbps, namun saya berani taruhan masih dibawah 1000 orang di Indonesia yang bisa mendapatkan kecepatan seperti itu.
Oleh karena itu banyak yang berkata bahwa kita butuh LTE untuk mensolved masalah itu, dan sayangkan LTE baru akan bisa sampai di Indonesia akhir 2014?? (Please CMIIW)

Cuma apa iya cuma LTE doank yang bisa solved masalah itu???Is it the only one solution for MBA???
menurut gw seh ga yah, karena sebenernya kenapa FBA itu bisa membantu MBA karena dia bisa offload traffic, jadi intinya itu gimana caranya kita bisa offload traffic di 3g???

Karena di masa depan, sharing traffic lah yang akan menjadi pondasi utama teknologi ke lima, Sedikit bocoran mengenai 5G, technology ke 5 itu bukan cuma sekedar new technology, new device to device etc, tapi bagaimana membangun sebuah network society yang converge, artinya menggabungkan WIFI, 3G, LTE(4G) dan new air interface(5G). Sekilas tampak bahwa 5G itu new technology namun jika terlibat lebih jauh, sebetulnya bukan “new technology”nya yang menjadi jualan di 5G, namun bagaimana membuat sebuah network yang bisa saling sharing untuk memberikan kepuasan kepada customer dalam hal kecepatan dan kestabilan.

its not about 100 Mbps network, its about how to ensure that customer got the desired speed with very very little latency with the most stable network. Karena di 5G everything is connected.

Jadi intinya adalah sharing the load….

Naah menurut gw neh yah, kenapa Indonesia ga ngikutin kayak Swiss??? Mereka membantu mengoffload 3g traffic dengan WIFI???

3G dan WIFI mempunyai core network yang berbeda, technology di radionya pun berbeda, freq yang dipakaipun berbeda, dan yang lebih maknyusnya semua smartphone punya wifi!!!!!!!

Saya tidak akan membahas lebih lanjut bagaimana offload 3g ini dilakukan ke wifi, hal-hal seperti EAP-SIM, Traffic Steering etc terlalu teknikal untuk dibahas di pesbuk wkwkkww
Mendingan operator di Indonesia udah deh pada dateng aja ke kantor yang di Pondok Indah, banyak kok nti yang bantuin nyari solusi… (hahaha promosi banget gw wkwkwkwkw)

Jadi kesimpulannya Pak Tifatul, internet berkecepatan tinggi itu penting loh.. Banyak contoh casenya yang perekonomian satu negara terangkat karena internet… Klo concernnya karena APBN kita alokasinya untuk internet kurang, masih banyak cara lainnya kok…
Perusahaan swasta sebetulnya sudah siap untuk menyediakan internet berkualitas bagus di Indonesia, hanya perlu close cooperation aja dengan pemerintah, saling support lah intinya…

Salam kedinginan dari Stockholm,
Indra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s